Gus Baha: Kunci Bersosialisasi di Tengah Masyarakat Adalah Saling Memaafkan

  • Bagikan
Gus Baha, Kunci Bersosialisasi di Tengah Masyarakat Adalah Saling Memaafkan
Gus Baha: Kunci Bersosialisasi di Tengah Masyarakat Adalah Saling Memaafkan

Rembang, CakrawalaSulsel – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama RI mengahadirkan tokoh agama KH Bahaudin Nur Salim yang akrab disapa Gus Baha dalam tausiyah acara Halal Bihalal.

Kyai yang akrab disapa Gus Baha ini menyampaikan tausiyahnya dari Aula Ponpes Lembaga Pembinaan, Pendidikan, dan Pengamalan Ilmu Al-Quran (LP3iA), Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Gus Baha mengatakan hidup berdampingan dengan keberagaman adalah situasi yang sudah ada sejak dahulu. Untuk bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat yang beragam ini, harus ada sikap saling memaafkan.

Menurut Gus Baha, banyak cerita zaman ulama terdahulu yang menunjukkan kebaikan ulama dalam hidup bersosialisasi di tengah keberagaman.

Baca Juga: Jemaah Haji Tahun 2021 Batal Berangkat, Ini Penjelasan Kepala Kemenag Sinjai

“Nabi Ibrahim sempat ditegur oleh Allah memberi makan orang Majusi yang sedang kelaparan dengan satu syarat, yaitu mau beriman kepada Allah. Namun orang Majusi tersebut keberatan dan menjadikan Nabi Ibrahim urung memberikan makanan. Lantas Allah menegurnya,” tuturnya secara virtual, Senin (7/6/21).

Ia mengisahkan, Nabi Ibrahim ditegur oleh Allah karena Allah saja memberi makan orang Majusi itu selama puluhan tahun, padahal dia tidak beriman.

“Lantas Nabi Ibrahim memanggil orang Majusi tersebut untuk diberi makan,” ujarnya.

Diceritakan pula oleh Gus Baha, Nabi Muhammad Saw memaafkan Da’sur, seorang yang sangat benci kepada Nabi dan hampir membunuhnya. Namun Nabi memaafkannya dan menyuruhnya pergi, hingga akhirya Da’sur masuk Islam.

Baca Juga: Beredar Info Jemaah dari Luar Saudi Diizinkan Haji, Kemenag: Kita Tunggu Pengumuman Resminya

Sikap pemaaf Nabi Muhammad itu juga diberikan kepada orang kafir Quraisy yang sudah masuk Islam. Bahkan, mereka sempat takut karena sebelumnya sangat memusuhi Nabi.

“Orang Quraisy ini berkata bahwa Saya saksikan engkau sebagai orang yang tidak berperilaku bengis. Engkau adalah Saudara yang terhormat. Lantas Nabi memaafkan mereka sebagaimana Nabi Yusuf memaafkan saudara-saudaranya yang telah berusaha membunuhnya,” sambung Gus Baha.

Gus Baha mengatakan, begitu banyaknya keteladanan Nabi dan ulama zaman dahulu ini harus menjadi ibrah (pelajaran) bagi umat Islam untuk saling memaafkan antar teman, tetangga, dan antar warga Indonesia.

Baca Juga: Dharma Wanita Persatuan Kemenag Rencanakan Program Pesantren Lansia

Kisah lain yang patut dijadikan teladan adalah sikap memberi Nabi Muhammad Saw tanpa pamrih. “Suatu saat Nabi pernah diprotes oleh sahabatnya mengapa Nabi bersedekah kepada sahabat yang tidak biasa bersedekah? Menurut mereka ini tidak adil. Inilah cara berpikr Nabi, bahwa seseorang yang bersedekah namun mengharapkan imbalan itu tidak bermental memberi. Padahal mental memberi itu seperti pengorbanan pahlawan negara yang berjuang tanpa pamrih untuk kemerdekaan negara,” ujar Gus Baha.

Acara ini diikuti oleh semua perwakilan DWP seluruh Indonesia. Turut memberikan sambutan, Penasihat DWP Kemenag RI, Eny Retno Yaqut dan Ketua DWP Kemenag RI, Farikhah Nizar Ali.

Eny Retno menyampaikan, DWP Kementerian Agama harus berperan dalam penguatan moderasi beragama di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat multikultural. “Kita lihat akhir-akhir ini sudah menurun budaya kasih sayang dan saling toleransi. Tugas kita adalah mampu mengelola keberagaman demi persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Eny. (*)

  • Bagikan