Hati-Hati, Jangan Terlena dengan Pujian dari Seseorang

Hati-Hati, Jangan Terlena dengan Pujian dari Seseorang
Hati-Hati, Jangan Terlena dengan Pujian dari Seseorang

CakrawalaSulsel – Seringkali seseorang terlena dengan pujian hingga membuat lupa dengan hakikat dirinya yang sebenarnya. Kadang seseorang memuji kawannya di hadapannya sehingga orang yang dipuji tersebut merasa besar hati.

Padahal hal seperti ini, sudah jelas bahwa Nabi Muhammad saw tidak menyukai. Bahkan Rasulullah saw menegaskan memuji-muji seseorang seakan-akan telah menebas leher kawannya yang telah Engkau sanjung itu.

Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari bapaknya menceritakan:

Ada seseorang berada di dekat Rasulullah saw. Lalu ada orang lain yang memuji-muji orang tersebut, maka Nabi saw bersabda:

“Celaka engkau! Engkau telah menebas leher kawanmu.”

Nabi mengulang kata tersebut berulang kali. Jika kamu mau memuji, dan itu harus memuji, maka katakan:

“Aku sangka (aku kira) dia demikian dan demikian” jika dia menyangka kawannya memang seperti itu, “dan yang mengetahui pasti adalah Allah, dan aku tidak mau memastikan (keadaan) seseorang di sisi Allah.”
(HR. Bukhari No.6061 dan Muslim No.3000).

Baca Juga: Manfaat Shalat Tahajud untuk Kesehatan Tubuh dan Kemuliaan di Akhirat

Dalam hadits tersebut, Rasulullah saw, memberikan penjelasan bahwasannya ujub dapat disebabkan karena pujian yang berlebihan.

Jika pada saat seseorang memuji kawannya atau orang lain di hadapannya, dan dapat menyebabkan orang yang dipuji tersebut merasa besar diri dan bangga dengan amalannya, maka hal ini dimakruhkan.

Adapun pujian kepada seseorang yang orangnya tidak ada di tempat itu, maka hal tersebut adalah sanjungan yang baik.

Dalam hadis ini juga Rasulullah saw mengingkari orang yang memuji orang lain itu dengan mengatakan:

“Celaka kamu, kamu telah menebas leher kawanmu”.

Artinya, Rasulullah saw tidak menyukai perilaku semacam ini.

Baca Juga: Ketahui 3 Penyebab Pahala Sedekahmu Ditolak Oleh Allah

Diriwayatkan dari Abdullah bin Syakir. Suatu hari seseorang datang kepada Nabi Muhammad saw, kemudian dia mengatakan:

“Apakah anda sayyidul Quraisy?”

Maka Nabi saw mengatakan:

“As Sayyid adalah Allah.”

Maka sahabat mengatakan:

“Engkau adalah orang yang paling mulia di antara kita, paling besar jasanya?”

Maka Rasulullah saw bersabda:

“Katakanlah perkataan yang biasa kalian ucapkan, dan jangan jadikan perkataan kalian menjadi tunggangan setan-setan.”
(HR. Ahmad No.16316, Abu Daud No.4706)

Dari hadis ini, Rasulullah saw, saja melarang seseorang memuji di hadapan beliau, lalu bagaimanakah dengan orang yang levelnya pasti di bawah Rasulullah saw.

Maka dari itu, sangat diwajibkan bagi kita untuk tidak terlena dan larut dalam pujian seseorang, karena pada dasarnya manusia yang tak luput dari kelemahan dalam diri masing-masing.

Pujian dapat menyebabkan seseorang terjerumus dari sifat tercela yang dilarang oleh Allah Swt. Dalam hadits lain pun menegaskan bahwa:

“Rasulullah memerintahkan kami untuk melemparkan debu di wajah orang-orang yang suka memuji.” (HR. Muslim No.3002)

Allah swt pun berfirman dalam surat Al-Munafiqun (63):1-2 yang artinya:

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.”

Kemudian Allah swt melanjutkan firmannya:

“Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan”.

Maksudnya adalah mereka menjadikan itu penghalang atau tameng, kemudian “Mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan”.

Baca Juga: Wajib Tahu, Ini Bacaan Zikir Menjelang Buka Puasa

Ini adalah sifat orang munafik dan orang yang suka cari muka. Maka kita harus waspada terhadap mereka. Jangan biarkan mereka berlebihan dalam perilaku yang terlarang ini.

Inilah alasan pertama mengapa pujian langsung di hadapan seseorang itu dilarang. Alasan lainnya kenapa pujian langsung itu dilarang adalah karena pujian yang dia tujukan kepada manusia sejatinya Allah Swt juga ikut menyaksikannya.

Allah Swt mengetahui keadaan sejati seseorang yang tidak diketahui oleh orang lain satu pun. Maka tidak ada yang mengetahui batin manusia kecuali Allah Swt.

Tidak ada yang mengetahui hakikat ketulusan amal manusia dan tidak pula ada yang mengetahui apakah amalannya diterima ataukah tidak kecuali hanya Allah Swt.

Maka Rasulullah Saw mengkoreksi orang tersebut, dan beliau mengganti perkatannya:

“Aku menyangka dia demikian, dan Allah lah yang akan menghisabnya.”

Karena Allah Swt yang memperhitungkan dan mengetahui amalan seseorang. Allah Swt mengetahui niat dan maksudnya.

Baca Juga: Saat Menjelang Nafas Terakhir, di Pangkuan Siapakah Kamu saat Itu?

Inilah adab kepada Allah. Tidak selayaknya seseorang memuji dirinya sendiri di hadapan Allah Swt.

Allah Swt berfirman dalam Surat An-Najm (52): 32, yang Artinya:

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.”

Inilah sifat manusia yang ditegaskan oleh Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw yang bisa kita pelajari dan menjadi pedoman kita saat kita mendapatkan pujian dari seseorang.

Manusia tidaklah ada jaminan untuk terhindarnya ujub pada dirinya. Karena ujub dapat menyebabkan seseorang lalai dan hilangnya ketaatan kepada Allah Swt, lantaran terlena dengan pujian itu.

Baca Juga: Bolehkah Suami Memasukkan Jari Tangan ke Miss V Istri saat Bercinta? Simak Penjelasannya

Source