Saat Menjelang Nafas Terakhir, di Pangkuan Siapakah Kamu saat Itu?

6

Saat Menjelang Nafas Terakhir, di Pangkuan Siapakah Kamu saat Itu

CakrawalaSulsel – Pernahkah kamu bertanya-tanya kepada dirimu sendiri ketika saat menjelang nafas terakhirmu, di pangkuan siapakah nanti kamu saat itu?

_

Mungkin pertanyaan menjelang nafas terakhir ini kedengarannya serem. Namun, seharusnya ini adalah pertanyaan penting yang Paling Manis, baik muda ataupun tua pasti akan mengalaminya dan dijemput maut.

Berbicara tentang siapakah yang paling berhak menjadi sandaran kepala kita, saat menjelang nafas terakhir yaitu ketika Ruh kita hendak berpisah dari jasad. Itu adalah pembicaraan “Perihal Cinta”.

Dia tempat kita bersandar terakhir haruslah orang yang mencintai kita dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati yang ketika kita menghadapi sakaratul maut, dia tau apa yang harus dia lakukan.

Baca Juga: Seekor Anak Katak saat Turun Hujan, Bersama Kesukaran Ada Kemudahan

Bukan sekedar menangis, bukan sekedar merengek terisak sambil menyebut nama kita untuk jangan meninggalkannya.

Dia haruslah orang yang bisa, Mentalqin kita dengan Kalimah Thayyibah: “LAA ILAAHA ILLALLAH” 

Mentalqin hamba yang sedang menghadapi perjuangan terakhirnya itu butuh ilmu dan bimbingan.

Siapa tahu istri atau suamimu wafat dalam pelukanmu, siapa tahu orangtua/anak mu meregang nyawa ketika sedang berada dalam pangkuan atau dekapanmu.

Baca Juga: Doa memohon Perlindungan saat Dalam Kondisi Terpuruk

Sudah banyak kisah, ketika nafas seorang ayah tersengal-sengal menjemput ajalnya, anak-anaknya hanya bisa menangis, tak tahu harus bagaimana berbuat dan memperlakukan ayahnya di akhir hayatnya.

Baca Juga :  Eminem – Stronger Than I Was

Jutaan cerita ketika seorang istri tak lagi bisa berkata apa-apa, hanya menetes air mata sambil berbisik menitipkan buah hatinya agar dirawat dan dibesarkan ayahnya dengan kasih sayang.

Suaminya hanya bisa menatap iba, tak keluar sepatah kata pun sebagai pesan terakhir untuk diucapkan istrinya menjemput akhir hidupnya.

Sebuah wasiat indah. Pengantar Ruh menuju surga dari manusia paling utama yang namanya senantiasa disebut-sebut dengan penuh kasih sayang di setiap keping zaman.

Baca Juga: 3 Tingkatan Orang Menjalankan Puasa Menurut Imam Ghazali

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Talqinlah (tuntunlah) seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illa Allah.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim).

Sungguh, kalimat yang terakhir diucapkan seorang hamba ketika menjelang wafatnya haruslah kalimat yang paling bagus, paling Indah, paling utama.

Dan tidak ada kalimat yang lebih indah daripada kalimat “Laa ilaaha illa Allaah.”

Karena, kalimat inilah kalimat penyelamat yang menjadi sebab Allah memasukkan seseorang ke dalam syurga, ketika kalimat ini menjadi kata-kata terakhir yang keluar dari lisannya menjelang ajal.

Baca Juga :  Saat Ini, BPJS Kesehatan Lakukan Pemetaan Pemenuhan Fasilitas Kesehatan di Daerah Terpencil

Baca Juga: Doa memohon Perlindungan saat Dalam Kondisi Terpuruk

Rasulullah saw. Beliau bersabda:

“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah “Laa ilaaha illa Allah” maka dia akan masuk syurga.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud)

Lantas, bagaimana cara mentalqin seorang hamba yang sedang menghadapi ajalnya?

Apakah kita bacakan ayat-ayat dari Alquran, bacakan tahlilan atau berulang-ulang kita bisikkan kalimat “Laa ilaaha illa Allaah?.

Tidak…!
Cukup sekali saja membisikkannya. Perhatikan, apakah dia bisa menirukannya. Jika sudah bisa menirukan, tahan lisan. Jangan sampai dia berkata-kata lagi selain:

“Laa ilaaha illa Allah”

Baca Juga: Sunnah Puasa Bulan Suci Ramadhan saat Makan Sahur dan Berbuka

Kalau dia mengigau lagi atau mengucapkan kata-kata, tunggu diamnya, lalu bisikkan lagi “Laa ilaaha illa Allaah” sampai kamu tau dia bisa menirukannya. Begitu seterusnya sampai Ruhnya terlepas dari jasadnya, sehingga kata-kata terakhir yang keluar dari lisannya adalah:
“Laa ilaaha illa Allaah” Dan dia menjemput kemenangan meraih husnul khatimah.

Itulah bentuk cinta dan kasih sayang yang sebenar-benarnya terhadap orang yang kita cintai, dengan membantunya mengucap kalimat penyelamat di penghujung hidupnya.

Source