Membangun Logika Toleransi dan Kesadaran Bersama Sebagai Modal Dasar Kebangsaan

8



Membangun Logika Toleransi dan Kesadaran Bersama Sebagai Modal Dasar Kebangsaan

Makassar, CakrawalaSulsel – Setelah teror bom terjadi di Gereja Katedral Makassar beberapa minggu yang lalu, kini tiba-tiba viral di media elektronik seseorang yang mengaku nabi ke 26 bernama Jozeph Paul Zhang. Ironisnya oknum tersebut mencaci Nabi Muhammad SAW beserta ajaran-ajaran yang diembangnya.

_

Dalam histori kenabian/kerasulan sejak Nabi Adam AS sampai kepada Nabi Muhammad SAW belum pernah ada seorang nabi dan rasul yang menghina dan mencaci nabi-nabi sebelumnya. Jozeph Paul Zhang dapat dipastikan sebagai nabi palsu dan sangat berpotensi merusak tatanan kehidupan antar ummat beragama.

Kejadian ini tidak hanya sebatas penistaan agama semata tetapi juga merupakan sebuah bentuk teror verbal (agresifitas verbal) yang ditujukan kepada agama tertentu. Kasus ini nyata-nyata melakukan teror yang mengganggu psikologis ummat Islam disaat menjalankan ibadah puasa di bulan suci ramadhan.

Baca Juga: Bhayangkari dan PT Grab Teken MoU Digitalisasi UMKM se-Indonesia

Kejadian ini tentu sangat mengganggu keamanan dan ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). Polri sebagai pengayom dan pengawal stabilitas masyarakat, saat ini tengah menggandeng Interpol dan membuat daftar pencarian orang (DPO) terhadap Jozeph Paul Zhang agar bisa dideportasi dari negara tempat dia berada.

Masyarakat berharap agar polri terus berusaha untuk menangkap dan memproses secara hukum serta mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Harus disadari bahwa Indonesia adalah negara yang sangat plural dan majemuk baik dari sisi budaya maupun agamanya yang tentu saja patut dipelihara kebhinekaannya. Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara telah menjamin pemeluk agama dan kepercayaan untuk menjalankan ajarannya masing-masing.

Baca Juga :  Sebelum Nikah, Atta Halilintar Diberi Wejangan Dokter Boyke: Jangan Dugem

Baca Juga: Kebakaran di Bontoduri 7, Brimob Polda Sulsel Bantu Warga Padamkan Api

Ditengah-tengah kompetisi global saat ini, Indonesia harus mampu menjadi bangsa yang kuat dalam menangkal faham-faham ekstrim karena berpotensi memecah belah ummat dan menghancurkan keutuhan bangsa. Oleh karena itu dibutuhkan modal kebangsaan sebagai pilar tegaknya kerukunan dan keutuhan bangsa Indonesia.

Modal kebangsaan adalah suatu nilai yang sangat penting artinya dalam membentuk kekuatan spiritualitas dan nasionalisme bangsa. Diantara modal kebangsaan yang sangat penting adalah membangun logika toleransi dan kesadaran beragama.

Toleransi adalah sebuah cerminan sikap yang mengakui adanya pluralitas agama, saling menghargai, saling menghormati, dan bahkan dapat bekerja sama dengan tujuan untuk kedamaian dan kesejahteraan bersama. Agar masyarakat tidak terjebak dalam mencampur adukkan aqidah keyakinan maka logika toleransi beragama perlu dibina dan dibangun dengan baik.

Baca Juga: Warga R2000 Gowa Digegerkan Penemuan Sosok Mayat yang Terbujur Kaku

Dalam perspektif Islam konsep toleransi antar ummat beragama sudah sangat jelas, misalnya islam mengajarkan kepada ummatnya agar tidak terjadi pemaksaan dalam beragama (laa ikraha fid din), tidak diperkenankannya menyembah apa yang agama lain sembah sebaliknya tidaklah agama lain menjadi penyembah terhadap apa yang disembah dalam Islam (wala ana abidum maa abadttum wa laa antum abiduuna ma a’bud), tidak mengganggu tetapi memberikan kebebasan pemeluk agama lain menjalankan agamanya (lakum dinukum waliya din).

Baca Juga :  Wakil Wali Kota Makassar: Langkah Awal Tekan Angka Kemiskinan Perkuat di Data

Dalam hal-hal muamalah dan urusan kemasyarakatan Islam tidak melarang untuk bekerja sama dengan penganut agama lain. Umat Islam sebagai penganut mayoritas di Indonesia patut menjadi toladan bagi penganut agama yang lain dalam menjaga dan memelihara prinsif-prinsif toleransi tersebut.

Modal kebangsaan yang kedua yaitu kesadaran beragama. Kesadaran beragama adalah kompleksitas dari sebuah pemahaman keagamaan, motivasi beragama dan terpancar dalam perilaku keagamaannya. Kesadaran beragama tidak hanya tercermin pada intensitas ibadah dan ketaatannya kepada Tuhan tetapi tercermin pula dalam interaksi sosialnya, kemampuan dalam menjaga ekosistem lingkungan serta terbinanya personality dan karakter yang baik (akhlakul karimah).

Meningkatnya kesadaran beragama bagi para pemeluknya tentu menjadi modal yang sangat baik terbukanya rahmat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.

Dalam konsep kerahmatan, para nabi dan rasul yang diutus ke bumi pada hakikatnya mengembang risalah yang sama dan diwariskan secara turun temurun yaitu mereka diutus untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Kabid Humas Polda sul-sel Kombes Pol E Zulfan mengajak kepada seluruh masyarakat agar semakin dewasa dalam menyikapi issu-issu keagamaan maupun issu-issu lainnya, jangan mudah terprovokasi demi keamanan dan ketertiban masyarakat.

Oleh:
Ahmad Razak
Dosen Psikologi UNM dan Da’i IMMIM



Source link