3 Tingkatan Orang Menjalankan Puasa Menurut Imam Ghazali

9



3 Tingkatan Orang Menjalankan Puasa Menurut Imam Ghazali

CakrawalaSulsel – Puasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam yang menjadi ketetapan bagi umat Islam.

_

Puasa berarti menahan diri dari segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan.

Imam Ghazali dalam kitabnya. Ihya Ulumuddin, menerangkan tiga tingkatan dalam berpuasa, yakni:

  1. Puasa orang awam
  2. Puasa ‎orang khusus
  3. Puasa orang khususnya khusus

Ketiganya bagaikan tingkatan tangga yang manarik orang berpuasa agar bisa mencapai tingkatan yang khususil khusus.

Baca Juga: Doa memohon Perlindungan saat Dalam Kondisi Terpuruk

Berikut tingkatan dalam berpuasa menurut Imam Ghazali seperti dilansir dari laman, perkarahati.com.

1. Puasa orang awam (umum)

Puasa orang awam adalah menahan makan dan minum dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat.

Tingkatan puasa ini menurut Al-Ghazali adalah tingkatan puasa yang paling rendah, kenapa? Karena dalam puasa ini hanyalah menahan dari makan, minum, dan hubungan suami istri Kalau puasanya hanya karena menahan makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami isteri di siang hari.

Maka kata Rasulullah Saw. Puasa orang ini termasuk puasa yang merugi yaitu berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala melainkan sedikit.

Baca Juga :  Patungan Beli Sabu, 4 Pejabat Pemkot Makassar Ditangkap di Tiga Tempat Berbeda

Hal ini lah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Saw dengan sabdanya:

“Banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatka pahala berpuasa, yang ia dapatkan hanya lapar dan haus.”

Baca Juga: Bagaimana Hukumnya Mencium Istri ketika Sedang Berpuasa? Ini Penjelasan Para Ulama

2. Puasanya orang khusus

Dalam kitabnya Imam Ghazali, menerangkan bahwa puasa orang khusus adalah selain menahan makan dan minum serta syahwat juga menahan gerak panca indra dan anggota badan seperti pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa.

Maka puasa ini sering disebutnya dengan puasa para orang saleh (Shalihin). Menurut Al- Ghazali, seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan dalam tingkatan puasa kedua ini kecuali harus melewati 6 hal sebagai prasayaratnya, yaitu menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan yaitu:

  1. Menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri.
  2. Menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Al-Quran.
  3. Menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik.
  4. Mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa.
  5. Tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, sampai perutnya penuh makanan.
  6. Hatinya senantiasa diliputi rasa cemas (khauf) dan harap (raja) karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah.
Baca Juga :  Resmikan Pondok Tahfidz Daarul Huffadz, Pemkab Gowa Beri Bantuan Rp100 Juta

3. Puasa orang khususnya khusus

puasa orang khususnya khusus adalah ‎puasanya tingkatan hati. Hatinya selalu terjaga dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah Swt.

Puasa khusus yang lebih khusus lagi yaitu, di samping hal di atas adalah puasa hati dari segala keinginan hina dan segala pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah Swt (shaum al-Qalbi ‘an al-Himam ad-Duniyati wa al-Ifkaar al-Dannyuwiyati wakaffahu ‘ammaa siwa Allaah bi al-Kulliyati).

Baca Juga: Sunnah Puasa Bulan Suci Ramadhan saat Makan Sahur dan Berbuka

Menurut Al-Ghazali, tingkatan puasa yang ketiga ini adalah tingkatan puasanya para nabi , Shiddiqqiin, dan Muqarrabin.



Source link