KPK Periksa Saksi Aliran Suap Menteri Edhy Prabowo

  • Bagikan
KPK Perpanjang Masa Penahanan Edhy Prabowo dan 4 lainnya, Masin-masing 40 Hari
KPK Perpanjang Masa Penahanan Edhy Prabowo dan 4 lainnya, Masin-masing 40 Hari

JAKARTA, RAKYATNEWS.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelusuri aliran uang yang menjerat Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo atas kasus dugaan suap izin ekspor benih lobster.

Penelusuran aliran dana itu dilakukan melalui pemeriksaan saksi. Seperti pemeriksaan pada Selasa (8/12) kemarin.

Salah satu saksi yang diperiksa KPK adalah Devi Komalah Sari. Ia merupakan pengurus rumah tangga. KPK mendalami dugaan adanya aliran uang kepada Edhy Prabowo dari keterangan Devi.

“Devi Komalah Sari dikonfirmasi mengenai dugaan aliran uang kepada Tersangka EP (Edhy Prabowo) dkk,” kata plt juru bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Rabu (9/12).

Selain Devi, sejumlah saksi lainnya yang diperiksa oleh KPK adalah Sekretaris PT Perishable Logistic Indonesia (PLI) bernama Ellen. Ia dikonfirmasi oleh penyidik KPK terkait dengan data pemaparan dari PT Aero Citra Kargo (ACK).

Adapun PT PLI diduga merupakan forwarder (ekspeditor) rekanan yang digunakan PT ACK untuk ekspor benih lobster.

Sementara satu saksi lainnya bernama Qushairi Rawi yang merupakan staf Edhy Prabowo dikonfirmasi mengenai adanya dugaan aliran uang kepada tersangka Amiril Mukminin. Amiril merupakan petinggi di PT ACK.

Lalu saksi lainnya bernama Putri Catur yang merupakan stafsus Edhy Prabowo dikonfirmasi mengenai sejumlah barang bukti yang dititipkan oleh tersangka Andreau Pribadi Misata. Andreau juga merupakan stafsus dari Edhy Prabowo.

Dalam kasus ini, KPK sudah menetapkan 7 tersangka. Tersangka penerima suap adalah Edhy Prabowo; Staf Khusus Menteri KP, Safri; Staf Khusus Menteri KP, Andreau Pribadi Misanta; Pengurus PT Aero Citra Kargo, Siswadi; Staf istri Menteri KP, Ainul Faqih; Amiril Mukminin.

Sementara tersangka pemberi suap adalah Direktur PT Dua Putra Perkasa, Suharjito.

Lihat Juga: Edhy Prabowo Diciduk KPK, Ini Komentar Jubir Prabowo

Edhy Prabowo diduga melalui staf khususnya mengarahkan para calon eksportir untuk menggunakan PT Aero Citra Kargo bila ingin melakukan ekspor. Salah satu adalah perusahaan yang dipimpin Suharjito.

PT Aero Citra Kargo diduga merupakan satu-satunya forwarder ekspor benih lobster yang sudah disepakati dan direstui Edhy. Para calon eksportir kemudian diduga menyetor sejumlah uang ke rekening perusahaan itu agar mendapatkan izin ekspor.

Lihat Juga: Edhy Prabowo Resmi Tanda Tangani Pengunduran Dirinya Sebagai KKP

Uang yang terkumpul diduga digunakan untuk kepentingan Edhy, salah satunya untuk keperluan belanja barang mewah saat berada di Hawaii, AS.

Ia diduga menerima uang Rp 3,4 miliar melalui kartu ATM yang dipegang staf istrinya. Selain itu, ia juga diduga pernah menerima USD 100 ribu yang diduga terkait suap. Adapun total uang dalam rekening penampung suap Edhy Prabowo mencapai Rp 9,8 miliar.


SC: kumparan.com

  • Bagikan