Debat Jilid 3, DILAN: Harga Dirita Terlalu Rendah Jika Dinilai dengan Rupiah

  • Bagikan
Debat Jilid 3, DILAN: Harga Dirita Terlalu Rendah Jika Dinilai dengan Rupiah
Debat Jilid 3, DILAN: Harga Dirita Terlalu Rendah Jika Dinilai dengan Rupiah

JAKARTA, RAKYATNEWS.ID – Pasangan calon nomor urut 3, Syamsu Rizal-Fadli Ananda (DILAN), dalam Debat Publik Jilid III Pilwalkot Makassar 2020 di Jakarta, tampil memukau dengan pernyataan penutup atau closing statement yang begitu meyakinkan, Jumat (4/12).

Secara bergantian dan sangat kompak, Deng Ical (Syamsu Rizal) dan Dokter Fadli (Fadli Ananda), menyampaikan pernyataan penutup. DILAN beberapa kali menyampaikan pernyataan satir dan tajam terkait fenomena Pilwalkot Makassar 2020. Di antaranya yakni politik uang, aksi kekerasan hingga penikaman pendukung paslon dan hoaks.

“Saudaraku, tidak tega rasanya memberikan uang dalam amplop, karena harga diri’ta terlalu rendah jika dinilai dengan rupiah. Maafkan DILAN jika tidak melakukan kekerasan dan saling menghujat, sebab milenial tidak suka pemimpin otoriter dan angkuh,” ucap Deng Ical.

Pada kesempatan itu, mantan Wakil Wali Kota Makassar tersebut menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat, relawan, parpol pengusung dan sahabat yang telah membantunya tanpa pamrih. “Terima Kasih kepada semua masyarakat, relawan, atas segala doa dan pengorbanan ta’.”

“Kepada sahabat partai pengusung dan mentor kami Pak ACO (Ilham Arief Sirajuddin, mantan Wali Kota Makassar dua periode) yang mengenalkan kesetiaan tanpa batas,” sambung pria dengan julukan Sombere’NA Makassar.

Sementara itu, Dokter Fadli menyampaikan bila kelak diberi amanah, DILAN berkomitmen mewujudkan seluruh program. Yakin dan percaya, kata dia, DILAN merupakan orang amanah, yang selalu memegang prinsip Taro Ada Taro Gau.

“Saudaraku, Deng Ical-Fadli Ananda tidak punya potongan pembohong, penebar fitnah dan omong kosong. Kami hanya tahu menolong dan bergotong royong,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, DILAN juga menyampaikan Pilwalkot Makassar 2020 bisa saja mencetak sejarah, dimana orang biasa dan selalu diremehkan akan terpilih. Syaratnya, bila warga solid memilih kandidat terbaik dan tidak termakan bujuk rayu politik uang dan intimidasi.

“Siapa sangka, orang biasa ini bertubi-tubi dihalangi bahkan diremehkan. Tapi semangat gemuruh Tunrung Pakanjara dan Gemercak Parappasa menjadi saksi seluruh warga Makassar, bahwa orang biasa akan cetak sejarah,” tukasnya. (*)

  • Bagikan